Kamis, 20 November 2008

Perlukah Kita Mempersiapkan Diri

Setiap insan pasti memerlukan sesuatu dalam hidupnya, baik itu yang bersifat dhohir maupun batin. Kebutuhan yang mereka perlukanpun berbeda-beda, karena kehidupan kitapun berbeda, dan masa-masa yang kita jalanipun berbeda. Ada yang sedang menjalani masa kanak-kanaknya yang pastinya perlu adanya kasih sayang dari orangtuanya, ada yang sedang menjajaki masa remajanya, dimana mereka sedang mencari-cari jati diri mereka, ada pula yang sedang menjalani masa-masa tuanya, dimana mereka harus bisa menjadi panutan oleh anak-anaknya dan juga mencari nafkah buat keluarganya. Inilah kenyataan yang ada di dunia ini, siapa saja yang kurang siap dalam menghadapi masa-masa yang sedang dihadapinya, bisa jadi mereka akan dibuat stres bahkan tak sanggup lagi tuk menjalani masa-masa hidupnya tadi . Maka tidak mngherankan kalau banyak orang yang mengakhiri kehidupanya dengan bunuh diri gara-gara mereka tidak siap dengan kehidupan yang sedang dijalaninya. Sesuai kondisi yang ada akan sangat perlu bagi kita untuk mempersiapkan segala keperluan yang kita butuhkan sedini mungkin, sebab kalau tidak sekarang kapan lagi sobat?


Kondisi terkadang memaksa kita untuk berbuat yang lebih baik, tapi disisi lain faktor yang ada dalam tubuh kita berkehendak lain, so hasilnyapun tidak sesuai dengan harapan. Tapi bagaimanapun itu semua akan terjadi dalam alam kehidupan kita, yang mau tidak mau harus kita selesaikan dan kita hadapi satu demi satu. Jangan lemah menghadapi persoalan yang sepele tapi persoalan sepele seperti apapun juga jangan kau acuhkan begitu saja, sebab dari soal yang sepele inilah akan berkembang menjadi soal yang besar jika tidak diperhatikan sedini mungkin.
Waktu terkadang membuat kita merasa nyaman dalam hidup, bahkan membuat kita betah untuk tetap hidup dalam kehidupan kita, padahal kehidupan sebenarnya tidak seperti yang kita bayangkan, dimana kita sering melirik dunia ini seakan-akan seperti surga yang penuh dengan kesenangan tapi yang tak kita sadari justru waktu itulah yang akan membuat kita menyesal dikemudian hari. Seperti yang dikatakan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin” , beliau mengungkapkan bahwa siapa saja yang menyangka bahwa dunia itu bisa membuat bahagia 1 jam saja maka dia akan menyesal selama setahun lamanya.
So, apa persiapan yang mesti kita lakukan? Apakah itu bersifat materi aja atau dhohir, ataupun fisik aja, tentunya keseimbangan antara kesemuanya itu, kalau sudah benar-benar seimbang, hasil yang akan kita peroleh nantinyapun akan fantastik.

Baca lagi......

Sabtu, 08 November 2008

RAHASIA di BALIK KESUKSESAN

Hidup sebagai seorang penuntut ilmu tidak bisa dikatakan sulit ataupun mudah, sebab semua tergantung pada diri kita masing-masing. Kita sering menjumpai para pelajar disekitar kita yang berhegemoni antara satu dan yang lainya, tapi justru dengan inilah kehidupan kita sebagai pelajar lebih terasa. Ada yang suka belajar saja, ada yang sukanya bermain ada juga yang sukanya belajar tapi diapun mampu mengimbanginya dengan bermain. Berbagai aktifitas selalu saja ada tiap harinya, baik itu yang sifatnya mendukung study maupun yang bersifat hanya buang waktu saja. Makanya baik buruknya hasil yang nanti kita dapatkan pastinya tergantung pada diri kita masing-maisng. Kalau kita mau hasil akhir bagus tentunya usaha untuk menuju hal itu harus ada, begitu juga sebaliknya. Sebenarnya masing-masing orang mengetahui karakter dirinya sendiri bagaimana dia harus mendapatkan hasil yang memuaskan, begitu juga dengan para penuntut ilmu, mereka mengetahui poin-poin penting mana yang harus dia lakukan. Walaupun demikian dalam tulisan ini penulis menginginkan untuk berbagi pengalaman mengenai poin-poin apa saja yang mesti dilakukan oleh seorang yang sedang menuntut ilmu. Ada lima rahasia yang penulis mau ungkapkan kepada para pembaca. Do you want to know what are the secret? Please remember this secret :


 Kepercayaan
Dalam poin ini kita sebagai pelajar harus percaya pada Alloh bahwa Dia akan selalu menolong kita, don’t despair, please! Kita mampu ko, mendapatkan apa yang kita inginkan asalkan mau berusaha dan percaya pada kekuasaan Alloh, karena setiap orang pasti punya talenta sendiri-sendiri, maka kembangkanlah talenta yang kamu punyai sobat. Selain itu kita juga harus bisa membuat orang percaya pada kita.

 Profesianalisme
Poin inilah yang terkadang masih perlu kita pahami dalam-dalam, sebab kalau kita mampu memahaminya dengan baik, hasil yang nanti kita dapatkan pasti juga akan sangat perfect banget

 Keikhlasan
Pastinya kita sebagai pelajar mesti kudu ikhlas dalam mengahadapi rintangan yang ada, baik itu masalah financial, masalah ortu ataupun belajar yang sangat menjenuhkan, semua mesti dijalanin dengan rasa ikhlas.

 Kebersamaan
Yang namanya kebersamaan memang sangat kita butuhkan, apalagi kita setiap harinya membutuhkan bantuan orang lain. Yang terpenting dalam kebersamaan ini adalah kita harus bisa saling mengingatkan dalam hal amar ma’ruf nahi munkar.

 Tahu akan tujuan yang mau ditempuh
Tentunya setelah kita memahami kemampuan kita dan orang lain bisa percaya pada kita, kita sudah bisa bersikap secara profesianal dan ikhlas dalam menghadapi apapun dan selalu bersama-sama dalam hal kebaikan, maka kita harus ingat tujuan semula, karena inilah poin akhir yang mau kita raih.

Ingat sobat waktu berjalan begitu cepatnya sampe terkadang kita tak sadarkan diri, so don’t let we regret in the future, Ok.

Baca lagi......

Senin, 03 November 2008

Biografi Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal adalah manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya.

Ø Kehidupan Kanak-kanak Beliau



Imam Ahmad bin Hanbal lahir di kota Baghdad bulan rabi’ul awwal 164 H. Nama panjang beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi . Waktu berumur tiga tahun, ayahnya meninggal sehingga beliaupun tumbuh besar dengan kasih sayang ibunya. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti Abbasiyah menjadi da’i yang kritis. Waktu kecil beliau terkenal sebagai anak yang alim suka beri’tikaf dan senang menjaga kebersihan.

Ø Kehidupan Muda dan Studinya

Beliau memulai karirnya dengan belajar ilmu fikih kepada abu yusuf, muridnya imam abu hanifah yang terkenal dekat dengan beliau. Sebagai seorang murid, beliaupun selalu mentaati semua omongan gurunya dan juga menghormati mereka. Salah satu guru-guru yang beliau sangat cintai adalah Imam Syafi’i, beliau sempat belajar fikih dan hadist kepada Imam Syafi’I bahkan beliau pernah mendapat penghargaan yang cukup tinggi dari Imam Syafi’I dalam bidang ilmu tersebut, sampai Imam Syafi’I pernah berkata kepada beliau” Beritahukan kepadaku kalau ada hadist yang belum aku tahu sehingga nantinya aku dapat mengamalkannya”. Selain waktu beliau digunakan untuk mencari ilmu tapi beliaupun menghiasinya dengan tingkah laku yang lain seperti jihad, menjaga hak-hak dalam agama islam dan beliapun melakukan ibadah haji lima kali dalam hidupnya bahkan dua diantaranya beliau lakukan dengan berjalan kaki.

Ø Keahlian Beliau dalam Berbagai Ilmu

Beliau menghabiskan 40 tahunya untuk mendalami berbagai macam ilmu, maka tak ayal kalau beliaupun pandai dalam beberapa ilmu yang beliau pelajari seperti kemampuan bilingualnya, selain itu juga beliau ahli dalam membuat puisi dan juga ahli dalam tata bahasa dan aplikasinya bahkan jasa beliau dalam ilmu tata bahasa arab sangatlah besar. Bahkan kepada omongan anaknyapun selalu beliau kontrol sehingga kalau salah berucap dalam tata bahasa beliau membenarkanya. Selain ahli dalam ilmu tata bahasa arab beliaupun ahli dalam ilmu al-qur’an, tafsir(authoring works in exegeses), nasekh wal mansukh(science of abrogation) dan qiro’at(recitation).

Ø Lima Prinsip Imam Ahmad dalam Hal Fikih

Prinsip madzhab Imam Ahmad

Ibnu Qoyyim menyatakan bahwa prinsip madzhab Hanbali ada lima:

1. Nushush.

Kalau suatu permasalahan bisa ditemui jawabannya di Qur’an dan Hadist, maka Imam Ahmad tidak akan melirik ke sumber lain.

2. Pendapat para shohabat

Jika pendapat shohabat sama sekali tak ada yang menentang, akan menjadi ijma' yang kuat dibawah Qur'an dan Sunnah.

3. Jika para shohabat berbeda pendapat, maka Imam Ahmad mengambil qoul yang paling mendekati Qur’an dan sunnah.

4. Berpegang pada hadist mursal dan dhoif. Mendahulukannya atas qiyas. Asalkan dhoifnya tidak dikarenakan hadist batil atau munkar atau rowinya muttaham.

5. Qiyas

Beliau mendahulukan hadist mursal, munqothi’, dan qoul shohabiy daripada qiyas. Hanya menggunakan qiyas saat-saat darurat saja.

Qiyas dalam madzhab ini meliputi pula istihsan, masholih mursalah, dzaroi', dan istishhab. Fuqoha Hanabilah mengqiyaskan sesuatu tidak hanya berdasarkan 'illah, namun juga mencocokkannya dengan hukum dan sifat yang sesuai.

Ø Pemikiran Imam Ahmad

1. Dalam masalah iman dan pelaku dosa besar (murtakibu al-kabair)

Menurut Imam Ahmad, amal itu bagian dari iman. Perkataan dan perbuatan baik buruknya dapat mempengaruhi iman. Iman bisa bertambah maupun berkurang. Bila seseorang melakukan maksiat, dia muslim, tapi bukan mukmin.

Pendapat ini hampir mirip dengan mu’tazilah. Hanya saja, mereka berujar bahwa yang mati dalam keadaan maksiat akan kekal di neraka sementara Imam Ahmad menyerahkan urusan itu pada Allah. Sesuai dengan irodat-Nya.

2. Sifat-sifat Allah dan masalah penciptaan Qur’an (kholqu al-qur’an)

Imam ahmad seorang salafi sejati. Tidak menakwilkan ayat mutasyabihat dan mengimani sebagaimana aslinya. Beliau meyakini sifat-sifat Allah sesuai yang tertera dalam Qur’an maupun hadist.

Dari sifat-sifat ini, adalah sifat kalam yang darinya muncul masalah kholqu al-qur’an. Banyak versi riwayat yang berbeda dari Imam Ahmad. Dan dari semua riwayat itu, Ibnu Qutaibah merojihkan riwayat yang mengatakan bahwa Al-Qur'an bukanlah makhluk. Sebagaimana yang dikatakan kaum salaf sebelumnya. Jadi dengan demikian, pernyataan ini bukan bid'ah. Al-Qur'an kalamullah, dan kalam bukan makhluk. Al-Qur'an perintah dan ilmu Allah, dan perintah maupun ilmu bukanlah makhluk.

3. Ru'yatullah di hari kiamat

Ahmad yang berpegang teguh pada nash, tidak mengakui takwil, mengimaninya secara utuh. Tidak seperti Mu'tazilah yang menafikan penglihatan ini. Karena menurut Mu'tazilah, melihat berarti kepada sesuatu yang konkrit. Dan keadaan yang demikian adalah penyerupaan Allah dengan makhluknya.

4. Pendapat Imam Ahmad dalam masalah politik

Imam Ahmad hampir sama dengan Imam Malik dalam masalah ini. Mereka sepakat mengenai urutan para shohabat, juga tentang pemilihan kholifah, juga bahwa keluar dari pemerintahan yang sah tidak diperbolehkan.

Ø Karya Tulis Beliau

Imam Ahmad menulis kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab "Musnad" dan sebaik-baik karangan beliau dan sebaik-baik penelitian Hadits. Beliau tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai hujjah. Kitab Musnad ini berisi lebih dari 25.000 hadits.

Diantara karya Imam Ahmad adalah ensiklopedia hadits atau Musnad, disusun oleh anaknya dari ceramah (kajian-kajian) - kumpulan lebih dari 40 ribu hadits juga Kitab ash-Shalat dan Kitab as-Sunnah.

Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.

2. Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.

3. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh

4. Kitab at-Tarikh

5. Kitab Hadits Syu'bah

6. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an

7. Kitab Jawabah al-Qur`an

8. Kitab al-Manasik al-Kabir

9. Kitab al-Manasik as-Saghir

Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal:

1. Kitab al-'Ilal

2. Kitab al-Manasik

3. Kitab az-Zuhd

4. Kitab al-Iman

5. Kitab al-Masa'il

6. Kitab al-Asyribah Çá

7. Kitab al-Fadha'il

8. Kitab Tha'ah ar-Rasul

9. Kitab al-Fara'idh

10. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah

Metode penulisan

Al-Musnad

Mulai pengumpulan musnad sejak Imam Ahmad berumur 16 tahun. Maka beliau mencatat hadits-hadits dengan asanidnya di lembaran-lembaran yang terpisah-pisah hingga beliau wafat. Ketika merasa ajal itu sudah dekat dengannya, beliau segera mulai mengumpulkan kembali hadits-hadits tersebut dan menghapus sebagiannya dan menyampaikan semua kumpulan hadits tersebut berikut metode yang telah ditempuh kepada semua putra dan ahli baitnya. Selanjutnya Imam Ahmad bin Hanbal berwasiat kepada putranya yang bernama Abdullah untuk mengatur kodifikasi hadits beliau melalui metode sanad. Metode ini dianggap sebagai metode yang paling sulit karena harus menertibkan hadits-hadits menurut tingkatan para perawinya dari para sahabat, yaitu mulai dari hadits yang diriwayatkan Abu Bakar r.a, Umar r.a dan seterusnya.

Adapun cara Imam Ahmad bin Hanbal dalam pemilihan hadits-hadits adalah jika hadits tersebut berkaitan dengan hukum-hukum atau ‘aqidah, maka harus dengan memenuhi syarat keshahihannya. Jika hadits tersebut berkaitan dengan keutamaan suatu perbuatan, meskipun hadits tersebut dha’if maka harus dikuatkan dengan meruju’ pada dalil Al-Qur’an dan hadits shahih. Dan jika ada nash lain yang lebih kuat dan menentang hadits tersebut, maka hadits yang lebih dha’if harus dihapus karena tidak memungkinkan untuk menyamaratakan antara keduanya.

Para perawi hadits sangat teliti dan berhati-hati sekali dalam hal ini. Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa tidaklah dalam musnad itu terdapat hadits maudhu’. Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa terdapat empat hadits maudhu’, akan tetapi ia bukan dari Imam Ahmad. Dan hadits-hadits dha’if yang terdapat dalam musnad yang tidak berkaitan dengan hukum-hukum, bukanlah termasuk hadits yang sangat dha’if sekali.

Dalam pengumpulan musnadnya, Imam Ahmad bin Hanbal telah mengelilingi dunia sebanyak dua kali. Adapun diantara perkataan Imam Ahmad yaitu “ Apabila anda mengimpikan segala keinginan yang terkabulkan, maka terlebih dahulu lakukanlah apa yang Allah inginkan.”

Ø Fuqoha Hanabilah

1. Abu al-wafa ali bin ‘uqail al-baghdadi (431-513 H)

Kitab yang dikarang:"Tadzkirah", "Al-Funun", di bidang fiqh ada kitab "Al-Fushul" yang dinamakan "Kifayatul Mufti", kitab "Al-Mufrodaat", "Al-Isyaroh", "Al-Mansyur".

2. Mahfudz ahmad bin al-hasan bin ahmad al-kaludzani ( 432-510 H) atau lebih dikenal dengan abu al-khitob al-baghdadi.

Kitab yang dikarang: "Al-Hidayah", "Al-Khilaf Al-Kabir" yang dinamakan dengan “Al-Intishor fi Al-Masail Al-Kubbar”, "Al-Khilaf As-Shoghir" yang dinamakan “Ru’usul Masail” beliau juga punya kitab "At-Tahdzib" dalam ilmu faroidh dan "At-Tahmid" dalam ushul fiqh.

3. Muhammad bin Abdullah bin al-husain as-samiri (535-616 H) laqobnya nashiruddin, berguru pada ibnu hakim.

Kitab yang dikarang: "Al-Mustau’ib", "Al-Faruq", "Al-Bustan".

Baca lagi......